lifelong learner — urip iku urup, currently working on accenture.

Bambu Hijau

0
Degananda.com -

Disuatu gurun yang gersang, tanpa oase sebagai bak air yang menhidupi organisme disekitarnya tumbuhlah sebuah bambu hijau. Secara ajaib dan tidak bisa dilogika , bambu ini menyuburkan lahan disekitar.

Tanaman-tanaman rumput mulai tumbuh digurun yang gersang tersebut. Mulai muncul oase – oase yang dikelilingi oleh pohon kelapa yang mampu memberikan nyawa pada ekosistem.

Kian lama bambu ini semakin tumbuh tinggi. Munculah daun-daun disekitar bambu tersebut. Terkadang daun itu tumbuh tidak teratur disekelilingnya.

Awalnya Digurun itu, terdapat sebuah pedang yang tertancap ditengah-tengah lautan pasir yang mampu menampakan dirinnya. Setelah oase muncul, rumput tumbuh dan ekosistem beserta organismenya mulai hidup, pedang ini menjadi nampak karena pasir-pasir yang menutupinnya mulai tergerus dan menjadi hutan rimbun yang lebat.

Hutan ini menjadi tempat baru bagi pedang tersebut. Ajaibnya, meski banyaknya kandungan oksigen yang mampu membuat karat , pedang ini tak sedikitpun menjadi tumpul. Malahan menjadi makin tajam karena tak hanya ada oksigen digurun yang kini telah menjadi hutan lebat tersebut.

Tahun demi tahun, bambu itu makin tumbuh tinggi, pedangpun membantu bambu memotong daun-daun disekitar bambu yang menganggu pertumbuhannya. Disisi lain, pedang tersebut sangat tertolong dengan banyak sekali manfaat yang diberikan oleh bambu tersebut.

Suatu saat, pedang ini tak lagi memiliki mata poros dalam menghilangkan hama disekitar bambu tersebut. Terkadang sayatan pedang itu melukai batang dari bambu itu. Sayatan demi sayatan tergores tanpa adannya penyembuhan.

Meski tergores bambu ini tetap memberikan manfaat pada pedang dan lingkungan gurun tersebut sampai suatu saat bambu itu tidak mampu berdiri karena banyaknya sayatan itu.

Bambu inipun memutuskan untuk menenggelamkan diri kembali ditanah semesta dan tumbuh kembali digurun lainnya dengan harapan dapat menyembuhkan sayatan-sayatan yang dulu tergores.

Naasnya, pedang itu terlambat sadar karena mata pisaunya tidak terkendali. Pada ahirnya gurun menjadi gersang kembali, oase yang tadinnya sangat subuh dengan melimpahnya air menjadi tandus bak tanah tanpa unsur hara.

Kini pedang tersebut mulai mencari kemana perginnya bambu tersebut. Pedang yang tumpul ini kehilagan tempat untuk mengasah ketajaman mata pisaunya. Kini benar-benar tumpul sambil berharap akan datangnya bambu yang dulu memberikan sejuta kebaikan baginya dan sekitar.

Pedang ini,sungguh,

Sudah seharusnya tidak menggores kembali bambu yang terluka tersebut. Bambu itu layak mendapatkan hutan yang sejuk, subur dan mendamaikan yang mampu menyembuhkan luka-luka sayatan bambu itu.

Kini pedang tersebut hanya bisa termenung dan mendoa agar bambu ini mendapatkan tempat yang mampu menyuburkannya dan semakin membuatnya tumbuh tinggi dan semakin tinggi hingga menumbuhkan bambu – bambu lainnya.

Biarkan pedang ini meratapi ketumpulannya , mendapatkan ganjaran akan sayatan-sayatan yang tak berlogika dan serta tetap belajar dari persimpangan bidang abstrak tersebut dan mengambil segala pelajaran untuk menajamkan mata pedangnya kembali.

Sungguh sampai sang maestro pedang mengambil kembali pedang miliknya, tak akan pernah pedang ini melupakan jasa-jasa bambu tersebut dan selalu mendoakan untuk kebahagiaan bambu tersebut.

Barakallah.