lifelong learner — urip iku urup, currently working on accenture.

Pedang tumpul

0
Degananda.com -

Hidup adalah suatu kenikmatan yang patut disyukuri. Setiap nafas dan langkah kaki merupakan karunia tuhan yang tak ternilai. Bagi sebagian orang yang lali, kenikmatan tersebut tidak nampak pada hatinnya. Jikalau tuhan mencabut kemampuan bernafas dan berjalan seorang manusia mungkin ia baru akan menyadarinnya betapa indahnya kehidupan.

Seorang manusia tumbuh menjadi insan yang matang. Melewati beragam ujian duniawi dengan bantuan orang-orang terkasih. Orangtua , teman dan kolega. Semakin jauh lini masa yang dilewati seorang anak manusia maka sejatinnya ujian yang dihadapi akan semakin rumit. Sesungguhnya , jika kita mempercayai bahwa ada dzat yang mengatur setiap detik kehidupan manusia maka ujian tersebut adalah bentuk kasih dan sayang tuhan terhadap manusia.

Lalai adalah salah satu sifat bawaan dari manusia. Meskipun ia diciptakan sempurna tetapi ia bukanlah seorang malaikat. Manusia dikaruniai sebuah object yang sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan, tingkat emosi serta tindak tanduknya dalam menjalani kehidupan. Object itu bernama hati. Object ini tidak bisa dikendalikan secara penuh oleh keinginan manusia namun terdapat suatu dzat yang dapat membolak balikan hati seorang anak manusia. Lantas apa yang harus kita banggakan sebagai anak manusia?

Sekita itu juga dzat ini mampu mengubah isi hati yang awalnya dihiasi dengan kebahagiaan, keceriaan, kebanggaan, optismisme, tekat kuat, ambisi besar, jiwa sosial yang tinggi dan kondisi positive lainnya menjadi kesedihan, penderitaan, kegundahan, hilangnya jiwa sosial dan kondisi negative lainnya.

Sebegitu mudahnya dzat ini menjatuhkan seorang anak manusia. Jikalau menjatuhkan anak manusia sangat mudah baginnya bukankah menaikan derajat anak manusia ini kembali lagi juga mudah baginya?

Sungguh, manusia adalah sebuah pedang yang tumpul apabila terkena karat dan lama tidak diasah. Sehingga tak layak seorang manusia menyombongkan dirinya atas suatu pencapaian yang ditandai dengan kelalaiannya dalam menghadap sang pencipta.

Semoga kita selalu berada dalam bimbingan dzat ini dan tidak menjadi pedang yang patah, semoga kita selalu yakin bahwa pergolakan hati anak manusia tidak lain adalah ujian atas cinta dan kasihnya pada insan manusia sehingga diahir nanti kita menjadi sebuah pedang yang dapat menebas segala halangan karena setiap detiknya diasah dalam kebaikan.